Heyugo Girl

Artikel Kecantikan Gaya Hidup Tips Sehat

Seorang pria Malaysia,Punithan Genasan, dijatuhi hukuman mati di Singapura lewat video call via Zoom. Warga negara Jiran itu menerima hukuman karena terbukti bertransaksi heroin pada 2011 silam. Melihat Singapura menjalankan aturan social distancing yang ketat, hukuman mati via Zoom ini jadi yang pertama terjadi di Negeri Singa.

"Demi keselamatan semua yang terlibat dalam persidangan, persidangan untuk Jaksa Penuntut Umum v Punithan A/L Genasan dilakukan melalui konferensi video," kata juru bicara pengadilan tertinggi Singapura, dikutip dari . Juru bicara pengadilan mengatakan ini menjadi kasus kriminal pertama yang mendapat hukuman mati melalui sidang jarak jauh. Sementara itu pengacara Genasan, Peter Fernando, mengatakan kliennya menerima putusan hakim via panggilan Zoom.

Kini pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mengajukan banding. Kendati demikian, sejumlah kelompok HAM menilai putusan via video call tidak etis untuk memberikanputusan dalam kasus kriminal besar. Namun, Fernando merasa tidak keberatan, menurutnya panggilan pada Jumat lalu itu hanya untuk menerima putusan hakim.

Itu sangat jelas dan tidak adaargumen hukum lainnya untuk dipresentasikan. Disisi lain, perwakilan perusahaan Zoom yang berbasis di Californiabungkam perihal sidang Zoom ini. Sebenarnya selama ini Singapura banyak menunda pengadilan karena pembatasan sosial.

Terhitung sejak April lalu aktivitas di pengadilan telah ditutup. Bahkan pembatasan sosial ini akan terus berlaku hingga 1 Juni 2020 mendatang. Namun, sebagian kasus kriminal yang kecil tetap disidangkan lewat jarak jauh.

Menyoal hukuman mati pada Fernando, Singapura memang tidak menoleransi transaksi maupun penggunaan obat obatan terlarang. Sejak beberapa dekade terakhir, Negeri Singa sudah banyak memvonis mati puluhan orang asing karena pelanggaran narkotika. "Penggunaan hukuman mati di Singapura pada dasarnya kejam dan tidak berperikemanusiaan."

"Penggunaan teknologi jarak jauh seperti Zoom untuk menjatuhkan hukuman mati pada pria membuatnya semakin parah," kata Phil Robertson, wakil direktur divisi Asia Human Rights Watch (HRW). HRW juga mengkritik kasus serupa di Nigeria di mana hukuman mati disampaikan melalui Zoom. Negara negara lain yang mengeksekusi pelanggaran terkait narkoba antara lain China, Iran, Arab Saudi, Indonesia, dan Singapura.

Singapura juga mempertahankan hukuman mati wajib, dalam keadaan tertentu untuk pelaku pembunuhan dan perdagangan narkoba. Meskipun sebenarnya bertentangan dengan perlindungan internasional dan pembatasan penggunaan hukuman mati. Menurut Amnesty International, dua orang dieksekusi di Singapura karena tuduhan terkait narkoba pada 2019 silam.

Sementara dua orang lainnya digantung karena jadi otak pembunuhan. "Kasus ini adalah pengingat lain bahwa Singapura terus menentang hukum dan standar internasional dengan menjatuhkan hukuman mati untuk perdagangan narkoba dan sebagai hukuman wajib," kata penasihat hukuman mati Amnesti, Chiara Sangiorgio, dalam sebuah pernyataan. "Ini harus diakhiri sekarang. Pada saat perhatian global difokuskan pada penyelamatan dan perlindungan jiwa dalam pandemi, pengejaran hukuman mati semakin membenci," tambahnya

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *