Kegiatan susur sungai kepramukaan yang digelar di Sungai Sempor, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jumat (21/2/2020) menelan korban jiwa. Sembilan dari ratusan siswa SMPN 1 Turi yang menjadi peserta meninggal dunia akibat tergulung gelombang besar. Pemakaman korban meninggal dunia pun dilaksanakan.

Duka mendalam dirasakan Dedy Sukma, Ayah dari Khoirunnisa Nur Cahyani, salah satu korban meninggal. Suaranya bergetar, pelupuk matanya menyimpan air mata yang tak henti hentinya jatuh. Dedy Sukma berujar lirih, "saya ikhlas." Tak ada yang disalahkannya, meski kejadian tragis saat susur sungai Pramuka SMPN 1 Turi, kemarin sore menewaskan putri sulungnya.

Dedy hanya meminta agar pihak pihak terkait melakukan koreksi, evaluasi. Dengan harapan kejadian senestapa ini tak terulang lagi. Kabid Humas , Kombespol Yulianto menyampaikan bahwa, berdasarkan hasil gelar perkara yang di lakukan pada siang tadi, dipimpin oleh Direktur Kriminal Umum , Kombespol Burkan Rudy, dan telah menaikkan status penyelidikan menjadi penyidikan.

Pasal yang disangkakan adalah 359 dan 360 KUHP, pasal kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia, dan kelalaian yang menyebabkan orang lain luka luka. “Sementara ini, tersangka sedang dilakukan pemeriksaan selanjutnya dan BAP," terang Kombespol Yulianto. Selanjutnya, Kabid Humas menginformasikan bahwa, sore ini, semua proses terkait identifikasi korban, dipindahkan dari Puskesmas Turi, , ke Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta.

Hal ini mengingat kelengkapan alat yang ada di RS Bhayangkara lebih memadai. Sungai Sempor yang digunakan sebagai lokasi para siswa SMP N 1 Turi sering dimanfaatkan sebagai lokasi outbound. Bahkan ada pengelolaan secara terorganisir untuk memandu wisatawan yang datang.

Dudung Laksono, pengelola Outbond di Dusun Dukuh, Donokerto, Turi menjelaskan bahwa tak pemberitahuan dari pihak sekolah dalam pada Jumat (21/2/2020) kemarin. Ia menerangkan, dalam yang direkomendasikannya pun hanya berjarak 500 meter, dengan kedalaman selutut orang dewasa. Adapun area outbound ini sudah ada sejak 2007.

Yang ditawarkan di lokasi ini adalah alam dan sungainya, di mana di sekitar lokasi outbound masih banyak ditumbuhi pepohonan, air sungai yang jernih dan masih ditemukan ikan di dalamnya. Hanya saja, jika dalam kondisi hujan dan air menjadi keruh, dan dengan kondisi itu maka pemandu siap untuk mengevakuasi peserta outbound keluar dari sungai. "Patokan kita air keruh. Kalau atas hujan pasti air keruh, itu harus segera dinaikkan. Kemarin enggak ada pemandu lokal, nggak ada konfirmasi," ungkapnya.

Padahal dengan kondisi peserta yang berjumlah lebih dari 200 orang, menurutnya harus ada setidaknya 20 50 pemandu yang mengawal peserta. Idealnya satu orang pemandu untuk lima peserta, paling banyak 10 peserta. Pihaknya sendiri memiliki 15 pemandu.

Saat disinggung langkah ke depannya pasca insiden ini, ia mengatakan bahwa pengelolaan outbound tetap berjalan, namun acara outbound di musim hujan untuk sementara dihentikan. "Kami membatalkan lima tamu. Di sini kan ada banyak desa wisata, semua dibatalkan juga. Ya berdampak juga wisatanya. Andaikata dari awal ada komunikasi, kan tidak terjadi seperti ini," tutupnya. Wahyu Efendi, Kepala DIY menyatakan bahwa proses pencarian hari kedua akan dihentikan sekitar pukul 21.00.

Seharian ini pihak dan SAR gabungan telah melakukan penyisiran dan pengecekan di beberapa titik yang diperkirakan ada tubuh korban yang menyangkut di dasar sungai. "Sekitar jam 9 malam akan kita tutup dilanjutkan besok pagi. Dengan pertimbangan jarak pandang terbatas, karena penerangan juga menggunakan lampu senter," ungkapnya. Ia menerangkan di hari kedua, Sabtu (22/2/2020) telah ditemukan satu korban susur sungai atas nama Nadine Fadila.

Kini tersisa dua lagi yang masih dicari. Rencananya, pencarian korban akan dilakukan hingga tujuh hari. "Hari ini sampai radius 3 KM dengan mengerahkan delapan tim. Besok pagi rencana pencarian dengan jarak kurang lebih 26 KM dengan asumsi pencarian dari titik awal," urainya.

Pihaknya pun akan melakukan tindakan penyelaman dengan personel dari , SAR gabungan, DitPolair Polda DIY dan Brimob Polda DIY. Ia menyebut, dari jarak 3 KM dari titik awal kejadian, terdapat lima palung sudah ditandai dan akan dilakukan penyelaman pada Minggu (23/2/2020). Sedangkan jaring yang telah ia pasang sejak hari pertama juga tidak membuahkan hasil.

Selain titik palung, Wahyu menjelaskan bahwa karakter sungai yang disisir rata rata sedalam 50cm sampai 1m. Ada sungai yang lebar kemudian menyempit dengan kondisi berbatu. Saat disinggung mengapa korban kebanyakan perempuan, Wahyu menjelaskan bahwa itu dikarenakan kondisi pakaian ya dikenakan saat arus air menerjang mereka.

"Perempuan menggunakan rok. Saat di air otomatis rok itu akan menghalangi air jadi bisa kebawa arus. Kalau pake celana, air akan lewat celah. Dan yang ditemukan semua perempuan dan menggunakan rok semua," tuturnya.

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *