Heyugo Girl

Artikel Kecantikan Gaya Hidup Tips Sehat

Apa bahayanya ibu hamil memaksakan diri untuk berpuasa? Huthia mengatakan ada bahaya yang dapat mengancam ibu hamil saat memaksakan dirinya untuk berpuasa. Bahaya ini bisa berdampak kepada sang ibu dan bahkan untuk janin itu sendiri.

"Misalkan pada ibu hamil yang jelas sudah ada tanda dehidrasi dan dipaksakan untuk berpuasa. Ibu akan merasa lemas, pusing serta kadar gula di otaknya akan menurun atau dalam istilah kedokterannya itu disebut hipoglikemia." Huthia melanjutkan, jika kondisi tersebut dibiarkan dan ditambah dengan asupan gizi yang tidak seimbang, maka akan membahayakan kondisi janin. "Mengurangi atau menghambat pertumbuhan janin," imbuhHuthia.

Menurut ia, pada dasarnya ibadah puasa diperbolehkan dan aman untuk dijalankan oleh ibu hamil. Namun, Huthia tetap memberikan sejumlah catatan kondisi yang perlu diperhatikan ibu hamil saat ingin menjalankan ibadah puasanya. "Pada dasarnya, puasa untuk ibu hamil itu aman, asalkan kondisi memungkinkan dan tidak memaksa."

"Jika ada kondisi tertentu yang dirasa berat boleh membatalkan dan tidak perlu dipaksakan," ucapnya. Perempuan yang akrab disapa Thia ini kemudian menguraikan kondisi ibu hamil yang dilarang untuk menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini ia bagi berdasarkan masa kehamilan atautrimester.

Pertama, masa kehamilan 1 13 minggu atau trimester pertama. Thia menjelaskan ibu hami di masa ini bisa mengalami gejala mual dan muntah. Jika gejala tersebut berlebihan, maka ibu hamil disarankan untuk tidak berpuasa.

"Muntah berlebihan lebih dari 3 kali dalam sehari misalnya." "Atau ada tanda tanda dehidrasi, seperti bibir kering, matanya berkunang, lemas, kemudian merasa haus berlebihan. Kondisi ini disarankan untuk tidak berpuasa." "Juga jika flek flek pendarahan juga tidak disarankan melakukan puasa," ucapnya.

Kondisi kedua pada masa kehamilan 14 28 minggu (trimester kedua). Thia mengatakan dokter biasanya tidak akan merekomendasikan ibu hamil di masa ini jika berat badan atau ukuran janin kecil. Ukuran tersebut tidak sesuai dengan usia kehamilan yang sesungguhnya.

"Atau adanya kontraksi yang teratur atau ancaman keguguran, gerakan janin dirasakan berkurang, misalnya kurang 10 kali dalam jangka waktu 12 jam." "Atau mengalami pusing, lemas pada saat berpuasa. Dan merasakan tanda tanda dehidrasi, seperti urin pekat, disarankan tidak berpuasa atau membatalkan jika dalam keadaan puasa," ungkapnya. Kondisi terakhir, pada masa kehamilan di atas 28 minggu.

Dalam kondisi ini, keadaan ibu hamil yang tidak disarankan untuk tetap menjalankan ibadah puasa jika berat bayi kecil yang tidak sesuai kehamilan yang sesungguhnya. Thia menambahkan, sedangkan untuk kondisi ibu hamil yang diperbolehkan tetap menjalankan ibadah puasa tidak mengalami gejala gejala di atas sesuai trimester usia kehamilan. Oleh karena itu, perempuan yang juga menjabat sebagai co founder Klinik Bunda Sehat ini memberikan saran.

"Dilakukan pemeriksaan pemeriksaan dasar, seperti cek tekanan nadi, hasil USG untuk mengetahui berat bayi itu, semua itu akan dievaluasi." "Jika tekanan darah normal, USG terlihat normal, berat badan bayi dan ibu sesuai dengan target, maka masih diperbolehkan untuk berpuasa," tandasnya.

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *