Heyugo Girl

Artikel Kecantikan Gaya Hidup Tips Sehat

Dokter Konsultan Nefrologi, dr Donnie Lumban Gaol SpPD KGH menjelaskan fungsi ginjal tidak bisa kembali normal jika sudah kronik. Meski demikian, penyakit gagal ginjal bisa dicegah dan ditunda sedini mungkin. Ia pun menyarankan agar orang orang yang sudah memiliki penyakit rentan terkena gagal ginjal, seperti hipertensi dan diabetes, rutin mendeteksi fungsi ginjalnya.

"Penyakit ginjal kronik itu sifatnya tidak bisa balik lagi ke normal tapi bisa kita delay, kita bisa mencegahnya," ujarnya dalam diskusi Bincang Sabtu Sore, "Gagal Ginjal? Penyebab dan Pengobatannya" di akun Instagram @kpcdi dan @dolumgas, Sabtu (6/6/2020) sore. Menurut dr Donnie, bila penyakit yang rentan terkena gagal ginjal itu diobati dengan baik, maka fungsi ginjal pun aman. Lantas bila sudah terkena penyakit gagal ginjal, bagaimana cara mengobatinya?

Dr Donnie menjelaskan, ada tiga pilihan bagi pasien yang sudah memikili penyakit ginjal tahap akhir atau mencapai stadium 5 akhir. Di antaranya yaitu hemodialisis, peritoneal dialisis, dan transplantasi ginjal. Ketiga model terapi tersebut, lanjut Donnie sudah ada di Indonesia, bahkan bisa menjadi pilihan di BPJS.

Namun, ia menerangkan, ketiga mode terapi tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing masing. Mode terapi pertama adalah hemodialisis atau yang lebih dikenal cuci darah. "Hemodialisis itu cuci darah datang ke Rumah Sakit, tidur setiap lima jam dua kali dalam seminggu."

"Jadi dia sekitar 12 jam setiap satu minggu di Rumah Sakit," papar dokter yang berpraktik di Mayapada Hospital Lebak Bulus Jakarta ini. Lebih lanjut, mode terapi kedua bernama peritoneal dialisis atau dikenal cuci darah lewat perut. Menurut dr Donnie, metode pengobatan ini lebih fleksibel karena alatnya portabel atau mudah dibawa dan tidak membutuhkan mesin hemodialisis.

Peralatan mode terapi ini pun mudah dibawa sehingga pasien akan lebih leluasa untuk bepergian. "Mode terapi ini lebih mobile dan dibutuhkan bagi orang yang beraktifitas dengan banyak orang," jelasnya. Namun, kalau pasien memiliki kesempatan donor maka lebih baik menggunakan mode ke transpalansi ginjal.

Kendati demikian, dr Donnie menyampaikan semua mode terapi ini menguntungkan pasien. "Semua menguntungkan tergantung individu lebih nyaman dimana," paparnya.

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *