Mantan Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan, meminta uang Rp 1 Miliar kepada Harun Masiku untuk mengurus persetujuan permohonan penggantian Caleg DPR RI di daerah pemilihan Sumatera Selatan I dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku. Hal ini diungkap Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU pada KPK) pada saat membacakan surat dakwaan atas nama Saeful Bahri, kader PDI Perjuangan, di ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (2/4/2020). Saeful Bahri berperan sebagai perantara suap dari Harun Masiku kepada Wahyu Setiawan. Untuk berkomunikasi dengan Wahyu, Saeful melalui Agustiani Tio Fridelina, mantan anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI.

JPU pada KPK mengungkapkan pada 5 Desember 2019, Saeful Bahri meminta Agustiani Tio Fridelina menanyakan kepada Wahyu Setiawan mengenai besaran uang operasional yang diperlukan agar KPU RI dapat menyetujui permohonan penggantian Caleg DPR RI di Dapil Sumsel I dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku dan menawarkan uang Rp750 juta. "Atas permintaan terdakwa tersebut, Agustiani menyampaikan kepada Wahyu melalui pesan iMessage: “Mas, ops nya 750 cukup mas?” dan dibalas oleh Wahyu dengan pesan iMessage: “1000”, yang maksudnya uang sebesar Rp 1 Miliar. Agustiani lalu menyampaikan permintaan Wahyu tersebut kepada Terdakwa," kata JPU pada KPK, saat membacakan surat dakwaan. Atas permintaan uang dari Wahyu, pada tanggal 13 Desember 2019, Saeful Bahri dan Donny Tri Istiwomah, penasihat hukum PDI P, melaporkan hal tersebut kepada Harun Masiku di sebuah Restoran di Hotel Grand Hyatt Jakarta.

Dalam pertemuan itu atas usulan dari Terdakwa disepakati untuk pengurusan di KPU RI melalui Wahyu Setiawan diperlukan biaya operasional sebesar Rp 1,5 Miliar "Beberapa hari kemudian Harun Masiku kembali menyampaikan kepada Terdakwa telah siap untuk menyerahkan uang Rp 1,5 Miliar serta berkata sekaligus mengatakan kepada Terdakwa dengan kalimat “awal Januari saya dilantik!”" ungkap JPU pada KPK. Kemudian, terjadi serah terima uang antara Harun Masiku kepada Wahyu Setiawan melalui Saeful Bahri. Pada 17 Desember 2019, Harun Masiku memberikan uang kepada Saeful Bahri Rp 400 juta untuk diserahkan kepada Wahyu.

Saeful melalui Moh. Ilham Yulianto menukarkan uang Rp 200 juta ke pecahan mata uang dollar Singapura yaitu setara SGD20,000.00 dalam 20 lembar pecahan uang 1000 dollar Singapura untuk diberikan kepada Wahyu sebagai uang Down Payment (DP) terlebih dahulu yang diserahkan melalui Agustiani Tio Fridelina di Plaza Indonesia. "Sedangkan sisa uang dari Harun Masiku dibagi rata untuk Terdakwa dan Donny Tri Istiqomah masing masing sejumlah Rp 100 juta," ujarnya. Setelah serah terima uang itu, Saeful Bahri bertemu dengan Wahyu dan Agustiani di Mall Pejaten Village. Sesuai arahan Saeful, Agustiani menyerahkan uang SGD 19 ribu. Namun, Wahyu hanya mengambil SGD 15 ribu sedangkan sisanya untuk Agustiani.

"Dalam pertemuan itu, terdakwa meminta bantuan Wahyu Setiawan agar dapat membantu proses PAW dari Riezky Aprilia sebagai anggota DPR RI Dapil Sumsel I kepada Harun Masiku sesuai surat permohonan DPP PDIP yang telah dikirimkan kepada KPU RI sebelumnya dan Wahyu Setiawan menjawab “Iya saya upayakan”" ungkap JPU pada KPK. Pada 26 Desember 2019, Harun Masiku kembali menghubungi terdakwa melalui telepon dan menyampaikan agar Terdakwa mengambil uang sejumlah Rp 850 juta dari Patrick Gerard Masoko. Selanjutnya dari uang tersebut digunakan oleh terdakwa, masing masing untuk operasional terdakwa sejumlah Rp230 juta, diberikan kepada Donny Tri Istiqomah Rp170 juta, diberikan kepada Agustiani sejumlah Rp 50 juta, dan sisanya sejumlah Rp 400 juta terdakwa tukar dengan mata uang dollarSingapura yaitu SGD38,350.00.untuk nantinya diberikan sebagai DP kedua kepada Wahyu melalui Agustiani.

Saeful Bahri menyerahkan uang SGD 38.350 kepada Agustiani untuk diserahkan kepada Wahyu sebagai DP operasional kedua. Penyerahan uang diberikan di sebuah restoran di Mall Pejaten Village. Kemudian, Agustiani menemui Wahyu dan melaporkanmengenai uang yang telah diberikan terdakwa. Selanjutnya pada Januari 2020, Wahyu menghubungi Agustiani agar mentrasfer sebagian uang yang diterima dari Terdakwa sejumlah Rp50 juta ke rekening atas nama Wahyu Setiawan. "Namun sebelum Agustiani mentransfer uang tersebut, Agustiani dan Wahyu diamankan petugas KPK dengan menyita uangSGD38,350 dari Agustiani," tambahnya.

Untuk diketahui, Saeful Bahri, anggota PDI Perjuangan, didakwa menyuap mantan Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan secara bertahap sejumlah SGD19 Ribu dan SGD38,3 Ribu yang seluruhnya setara jumlah Rp600 Juta. Sidang bergenda pembacaan surat dakwaan digelar di ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (2/4/2020) siang. Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan surat dakwaan di ruang sidang. Hadir di ruang sidang majelis hakim dan tim penasihat hukum Saeful Bahri.

Sedangkan, terdakwa Saeful Bahri mendengarkan surat dakwaan melalui fasilitas videoconference di Rumah Tahanan Negara Klas I Jakarta Timur Cabang KPK. "Telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga dipandang sebagai perbuatan berlanjut, memberi atau menjanjikan sesuatu yaitu Terdakwa telah memberi uang secara bertahap sejumlah SGD 19 ribu, dan SGD38,3 ribu yang seluruhnya setara Rp600 juta kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yaitu Wahyu Setiawan," kata JPU pada KPK saat membacakan surat dakwaan. JPU pada KPK mengungkapkan uang diterima Wahyu melalui Agustiani Tio Fridelina, orang kepercayaannya, yang pernah menjadi anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI.

Upaya memberikan uang itu dengan maksud agar Wahyu Setiawan mengupayakan KPU RI menyetujui permohonan Penggantian Antar Waktu (PAW) Partai PDI Perjuangan (PDIP) dari Riezky Aprilia sebagai anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Selatan 1 (Sumsel 1) kepada Harun Masiku. "Yang bertentangan dengan kewajiban Wahyu Setiawan selaku anggota KPU periode tahun 2017 2022," ujarnya.

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *